Sejak keputusan yang dibuat Jorge Lorenzo pindah ke Ducati terkonfirmasi, Yamaha memang sibuk mencari pengganti untuk dipasangkan dengan Valentino Rossi yang sudah sejak awal memutuskan untuk tetap membela Yamaha. Maverick Viñales yang saat ini membalap untuk tim Suzuki Ecstar digadang-gadang menjadi incaran utama Yamaha. Sementara pembalap yang bersangkutan belum banyak berbicara, banyak pengamat memberikan pendapat berbeda, bahkan bertentangan. Apakah sebaiknya Viñales menerima tawaran Yamaha atau tetap bertahan di Suzuki.

Bagi kebanyakan pembalap MotoGP, tawaran salah satu tim terkuat seperti Yamaha mungkin akan langsung diterima. Tapi ternyata Viñales memilih untuk berfikir lebih panjang sebelum mengambil keputusan.

Tidak diragukan lagi, Yamaha bukan hanya salah satu diantara beberapa tim terkuat di MotoGP, Yamaha berada di puncak jajaran tim terkuat itu. Selama 8 tahun terakhir Yamaha mendominasi MotoGP, dimana meskipun menghadapi persaingan ketat, selama periode itu Yamaha mencatatkan kemenangan terbanyak dibandingkan rival-rivalnya.

Dengan bergabung bersama Yamaha, Viñales akan langsung melesat ke papan atas. Berada di baris terdepan setiap balapan dan bersaing untuk meraih kemenangan. Berdiri sejajar di antara segelintir pembalap paling kompetitif seperti Marquez, Lorenzo, dan tentunya Rossi sendiri sebagai rekan setimnya. Meskipun begitu, di Suzuki Viñales memiliki posisi yang nyaman sebagai pembalap utama. Sementara jika Viñales pindah ke Yamaha, dia hanya akan menjadi pembalap kedua sebagai pendamping Valentino Rossi.

Pertnyaannya adalah apakah dengan pengalaman yang masih sangat minim, tahun ini adalah musim keduanya di kelas primer MotoGP, Viñales benar-benar sudah siap berada di posisi itu atau justru lebih memilih untuk menarik nafas lebih dalam dulu. Tentu sebagai seorang pembalap, Viñales lebih memilih motor yang sanggup memberinya gelar juara secepatnya. Pastinya kalau saja Suzuki mampu memberikannya, dia tidak akan mau meninggalkan posisi nyamannya sebagai pembalap utama di tim Suzuki.

Sayangnya meskipun motor Suzuki menunjukkan kemajuan pesat sejak kembali ke lintasan MotoGP dan timnya menyatakan komitmen penuh untuk terus mengembangkan motornya agar dapat bersaing di papan atas, sampai saat ini motor Suzuki belum sebanding dengan Yamaha. Motor Yamaha bukan hanya berpotensi akan menjadi motor yang kompetitif, tim Yamaha bukan hanya berkomitmen untuk mengembangkan motornya agar menjadi salah satu motor paling kompetitif. Saat ini Yamaha memiliki motor paling kompetitif … titik.

Viñales bisa saja bertahan di Suzuki. Apakah Suzuki benar-benar sukses mengembangkan motornya menjadi yang paling kompetitif, mungkin perlu setidaknya 2 tahun untuk melihatnya. Dan pastinya selama itu Yamaha juga tidak tinggal diam. Memiliki motor paling kompetitif tidak akan membuat Yamaha menghentikan pengembangan. Kenyataanya mengembangkan potensi motor dari kondisi motor Yamaha saat ini pastinya jauh lebih mudah dibandingkan mengembangkan potensi motor Suzuki dari kondisinya saat ini.

Sementara itu jika Viñales melewatkan tawaran Yamaha saat ini dan ternyata Suzuki gagal menciptakan motor yang kompetitif, belum tentu juga tawaran Yamaha masih akan terbuka. Kalau dengan penolakan Viñales kemudian Yamaha menemukan pembalap yang cocok, tentu Yamaha tidak akan punya alasan untuk mengganti. Jadi pilihan menolak tawaran Yamaha ini benar-benar sangat beresiko terhadap kelangsungan karir Viñales di MotoGP, terutama kesempatannya menjadi salah satu pembalap papan atas bahkan mungkin meraih gelar juara dunia.

Berikut adalah 5 alasan mengapa seharusnya Viñales pindah ke Yamaha, menurut Manuel Pecino, kolumnis pada saluran berita otomotif sportrider.com

Motor Paling Kompetitif

Bukan rahasia lagi bahwa Yamaha M1 adalah motor yang memiliki keseimbangan terbaik di MotoGP. Perlu dicatat bahwa keseimbangan merupakan salah satu faktor terpenting kalau bukan yang terpenting dari sebuah motor. Meskipun memiliki tenaga dahsyat dan sanggup melesat dengan kecepatan sangat tinggi, jika keseimbangannya kurang baik, motor menjadi sulit dikendalikan.

Dalam 8 tahun terakhir, Yamaha memenangkan 5 gelar juara dunia MotoGP. Jadi sangat jelas bahwa motor Yamaha bukan hanya salah satu diantara yang paling kompetitif tetapi memang motor paling kompetitif di lintasan MotoGP. Yamaha M1 memang memiliki sejarah panjang sebagai basis motor terbaik. Sejak 2005, M1 tidak pernah mengalami perubahan mendasar, hanya penyempurnaan yang terus menerus dilakukan, karena dasarnya memang sudah sangat mumpuni. Karena itu dapat dipastikan dengan bergabung bersama Yamaha, Viñales akan langsung mendapatkan motor yang hebat dari awal.

Valentino Rossi

Banyak yang mengatakan bahwa sebagai pembalap muda, Viñales akan belajar banyak dengan mendampingi maestro sekelas Valentino Rossi. Tentunya dengan asumsi bahwa keduanya dapat berteman baik setelah bergabung di dalam satu tim. Bukan soal balapan pastinya. Karena berada dalam satu tim dengannya, Valentino Rossi akan langsung menganggap Viñales sebagai pesaing paling berbahaya alih-alih sebagai anak asuh. Kita bisa melihat bagaimana Valentino Rossi memperlakukan Jorge Lorenzo pada saat dia baru masuk menjadi pendampingnya di Yamaha. Padahal saat itu Lorenzo bahkan merupakan seorang rookie.

Tetapi justru dengan sikap Rossi itu Lorenzo justru belajar sangat banyak dari sisi mental dimana Rossi memberikan contoh yang sangat baik bagaimana caranya agar tetap fokus mengejar kemenangan. Banyak pengamat menilai sekarang kemampuan Lorenzo untuk tetap tenang dan menjaga fokus dengan baik sudah melebihi Rossi. Sebagai pembalap muda Viñales pasti akan belajar lebih banyak berada di posisi pendamping Rossi daripada menjadi pembalap utama tanpa ada sosok yang lebih berpengalaman.

Langsung Siap Jadi Juara

Bersama tim dengan pengalaman segudang seperti Yamaha dan motor setangguh M1 akan membuat Viñales meloncat mendekati tujuannya sebagai pembalap, kemenangan. Jika selama ini bersama Suzuki Viñales hanya mengejar target agar bisa masuk podium, bersama Yamaha target podium sudah terlalu kecil. Bersama Yamaha dia akan melesat mengejar kemenangan, bahkan meraih gelar juara dunia. Alih-alih menghabiskan dua tahun tanpa kepastian bersama Suzuki, dua tahun bersama Yamaha akan memberi Viñales pengalaman berharga sekaligus membawanya ke dalam jajaran pembalap paling top di MotoGP.

Karir di Yamaha

Kemungkinan besar Rossi akan mengakhiri karir balapnya setelah dua tahun kontrak barunya bersama Yamaha berakhir. Jika sekarang Viñales masuk menjadi pendamping Rossi, maka dalam 2 tahun dia kemungkinan besar akan menjadi pembalap utama. Memang sekarang di Suzuki dia menjadi pembalap utama, tapi menjadi pembalap utama Yamaha dengan segudang kedigdayaannya adalah sesuatu yang sangat berbeda. Status sebagai pembalap utama di Suzuki menghasilkan podium, status sebagai pembalap utama Yamaha bisa menghasilkan gelar juara.

Kesempatan Tidak Datang Dua Kali

Umur 21 tahun bukanlah umur yang muda di MotoGP. Jauh sebelum menginjak usia itu Marc Marquez sudah menjadi juara dunia. Meskipun begitu, juga tidak terlalu tua, Valentino Rossi sekarang berusia 37 tahun. Kalau Viñales membuang waktunya 2 tahun lagi di Suzuki dan ternyata perkembangan Suzuki tidak seperti yang diharapkan, usianya baru akan mencapai 23 tahun. Kalau saat itu dia memutuskan untuk keluar dari Suzuki, pasti akan ada tim lain yang menerimanya. Meskipun begitu kesempatan untuk membalap bersama Yamaha belum tentu terbuka lagi.