Kalau anda pernah mengendarai mobil dalam keadaan mesin mati, misalnya saja mobil didorong dalam keadaan mogok, mungkin anda tahu bahwa saat mesin mobil mati, pedal rem jadi keras sekali. Kalau anda tidak tahu kenapa rem mobil keras saat mesin mati, jawabannya adalah karena pada saat mesin mati, booster rem tidak bekerja. Jaman dulu, sebelum mobil-mobil dilengkapi booster rem, kurang lebih seperti itulah pengemudi harus menguras tenaga untuk menginjak rem setiap kali mereka menghentikan mobil atau sekedar mengurangi kecepatannya.

Fungsi booster rem pada mobil adalah untuk meringankan pedal rem, sehingga kita tidak lagi harus menginjak pedal keras-keras hanya untuk mengentikan mobil. Sedikit injakan kaki di pedal itu kemudian dibantu oleh pedal rem sehingga menghasilkan tekanan yang cukup untuk mengentikan mobil.

Cara Kerja Booster Rem

Untuk membagi tekanan dari pedal menuju keempat roda, sistem pengereman mobil menggunakan master cylinder. Booster membantu memberikan tekanan tambahan supaya sedikit tenaga yang kita berikan dalam bentuk injakan ringan pada pedal dapat terkonversi menjadi tekanan yang cukup kuat untuk didistribusikan ke masing-masing roda dan menghentikan putarannya. Pada kenyataannya “tambahan” tenaga yang diberikan booster lebih besar dari tenaga yang dikeluarkan oleh kaki kita.

Lalu dari mana booster rem mendapatkan tenaga tersebut?

Biasanya booster rem mendapatkan tenaganya dari vacuum pada salura masuk ke dalam mesin. Tenaga vacuum yang diambil dari saluran masuk mesin ini yang kemudian disalurkan dalam bentuk tekanan ke dalam master cylinder saat pengemudi menginjak pedal rem. Alhasil tekanan pada master cylinder seolah-oleh seperti datang dari dua kaki, satu kaki pengemudi yang menginjak pedal, satu lagi “kaki” dari booster rem.

Kehampaan alias vacuum pada saluran masuk ke dalam mesin tidak akan ada saat mesin dalam keadaan mati. Karena itulah pada saat mesin dalam kondisi mati, booster rem tidak bekerja. Akibatnya pada saat mesin dalam kondisi mati, untuk menghentikan putaran ban hanya mengandalkan injakan kaki pengemudi pada pedal rem. Begitu penjelasannya kenapa saat mesin mati pedal rem jadi terasa sangat berat. Perlu tenaga ekstra untuk menghentikan mobil meskipun mobil hanya menggelinding dalam kecepatan sangat rendah.

Penggunaan kevakuman mesin sebagai sumber tenaga booster rem hanya ada pada mesin bensin. Kendaraan bermesin diesel yang berbahan solar sistemnya berbeda. Mesin diesel tidak menghasilkan kevakuman. Karenanya ditambahkan pompa khusus yang bekerja untuk menghasilkan kevakuman yang diperlukan booster, sehingga booster tidak mengambilnya dari mesin. Meskipun demikian pompa ini juga mengambil tenaga dari putaran mesin, sehingga meskipun memiliki pompa sendiri, sistem ini tidak membebaskan kita dari masalah tadi, saat mesin mati, pedal rem tetap saja berat.

Selain pedal, pada mobil modern yang memiliki teknologi dynamic stability control juga terdapat sesuatu yang disebut sebagai active booster. Active booster ini bekerja dengan solenoid untuk membuka-tutup katup yang mengalirkan tekanan ke dalam master cylinder. Dengan begitu rem dapat bekerja mengurangi kecepatan meskipun pengemudi tidak menginjak pedal rem. Mengenai dynamic stability control, detailnya mungkin akan kita bahas di lain kesempatan, dalam postingan tersendiri.

Sering kali kita salah, mengira bahwa sistem booster rem itu bekerja dengan tekanan hidrolik. Dengan atau tanpa booster, sistem rem memang bekerja secara hidrolis. Lewat pengaturan oleh master cylinder, tekanan yang diterima dari pedal dibagi ke setiap roda dengan menggunakan tekanan hidrolik berupa oli yang dialirkan lewat pipa kecil. Sekarang ini tidak ada mobil yang sistem rem-nya bekerja dengan menggunakan kabel, semua hidrolik. Kalaupun masih dipakai, sistem kabel biasanya hanya digunakan untuk rem tangan.

Booster rem biasanya ada pada mobil-mobil yang sudah memiliki rem cakram, entah pada rem depan atau depan dan belakang. Alasannya adalah karena rem teromol memang secara mekanis memiliki pegas yang – meskipun bukan itu tujuannya – membantu memperkuat tekanan pedal. Kalau anda pernah mengemudikan mobil tua yang keempat rodanya masih menggunakan teromol dan tidak dilengkapi booster rem, misalnya VW Kombi, Toyota Hardtop, atau Suzuki Jimny (tahun lama), memang pedal rem terasa lebih ringan dibandingkan mobil yang dilengkapi booster rem saat mesinnya mati.

Dimana Letak Booster Rem?

Booster rem biasanya sangat mudah dikenali karena posisinya tidak tersembunyi. Tinggal buka kap mesin dan carilah silinder pendek, seperti kaleng “Monde Butter Cookies” (maaf ya, nyebut merk nggak maksud iklan) yang menempel pada firewall. Nggak tahu firewall? Firewall adalah dinding yang memisahkan ruang mesin dan kabin mobil. Karena tekanan pedal rem langsung disalurkan ke dalam sistem rem melalui batang besi melewati booster menuju master cylinder, booster rem ini biasanya posisinya persis di depan pengemudi.

Biasanya di depan lingkaran booster rem itu menempel sebuah pipa logam dengan panjang kira-kira sejengkal. Itulah master cylinder. Dari master cylinder – kebanyakan bengkel menyebut dengan master saja – keluar beberapa pipa kecil berbahan logam yang menyalurkan oli rem menuju masing-masing ban. Di atas master cylinder ada tabung plastik berisi cadangan oli rem.

Apa Yang Terjadi Saat Pengemudi Menginjak Rem?

mekanisme-kerja-booster-remSaat pedal diinjak, pedal menekan sebuah batang besi yang menyalurkan tekanan itu melewati booster langsung menuju master cylinder dan mengaktifkan piston di dalam master cylinder. Kevakuman dari mesin yang masuk ke dalam booster menciptakan kevakuman di kedua sisi diafragma yang ada di dalam booster. Saat pengemudi menginjak pedal rem, batang besi yang terdorong oleh pedal membuka katup untuk memasukkan udara sekaligus menutup aliran vakum. Tekanan yang meningkat pada sisi diafragma itu ikut mendorong batang besi sehingga memberikan tenaga tambahan terhadap tekanan kaki dari pedal yang disalurkan menuju master cylinder.

Tekanan yang disalurkan melalui batang besi ini mendorong piston di dalam master cylinder untuk menekan oli rem secara merata ke masing-masing ban melalui pipa.