Drama persaingan antara duo pembalap Mercedes yang berlangsung sejak musim balam 2015 lalu justru kian memanas tahun ini. Sejak putaran pertama musim 2016 dimulai pada bulan Maret lalu di Australia, setiap seri balapan Formula 1 selalu dikuasai kedua pembalap Mercedes. Bukan hanya mendominasi jalannya balapan, tetapi juga hampir selalu beriringan pada posisi 1 dan 2 baik pada sesi latihan bebas dan kualifikasi sebelum lomba maupun saat para pemenang berdiri di atas podium kemenangan.

Jika tahun lalu Hamilton sedikit lebih unggul sehingga akhirnya berhasil menutup musim dengan meraih gelar juara dunia, Rosberg yang tahun lalu kalah sangat tipis justru lebih dominan. Setidaknya pada seri-seri awal yang digelar sejak seri pertama sampai saat ini. Sebagai catatan, gelaran Formula 1 tahun ini baru berlangsung 5 seri.

Prestasi Pembalap Mercedes F1 2016

Sejak seri pertama dibuka sampai saat ini sudah berlangsung 5 seri. Sebelum kedua pembalap Mercedes gagal finis akibat tabrakan pada seri ke-5 di Spanyol, Rosberg memenangkan 4 seri sebelumnya sehingga sampai sebelum seri ke-5 berhasil mengumpulkan angka sempurna, 100 point. Sementara Hamilton 2 kali berada di posisi ke-2, sekali berada di posisi ke-3, dan sekali terlempar keluar dari podium karena hanya finish di posisi ke-7. Berikut rincian lengkapnya:

Seri #1 di Australia: Rosberg (1), Hamilton (2), Vettel (3)
Seri #2 di Bahrain: Rosberg (1), Raikkonen (2), Hamilton (3)Seri #3 di China: Rosberg (1), Vettel (2), Kvyat (3) … Hamilton (7)
Seri #4 di Russia: Rosberg (1), Hamilton (2), Raikkonen (3)
Seri #5 di Spanyol: Verstappen (1), Raikkonen (2), Vettel (3) … Rosberg (DNF), Hamilton (DNF)

Perseteruan Rosberg dan Hamilton

Persaingan antara kedua pembalap Mercedes itu tadinya dipandang sebagai sesuatu yang menarik, sehat, dan konstruktif. Jika banyak tim – meskipun sering kali ditutup-tutupi – menerapkan apa yang dikenal dengan istilah “team order” untuk mengendalikan persaingan di antara pembalap-pembalap mereka sendiri, Mercedes sepertinya justru sengaja membiarkan dan justru bangga kedua pembalapnya bersaing bebas, mungkin dengan harapan di akhir seri kedua pembalapnya akan kembali membawa posisi 1 dan 2 pada kelasemen akhir kejuaraan dunia.

Tetapi sepertinya kali ini rivalitas yang luar biasa panas itu justru menjadi bumerang, baik kepada tim maupun kepada masing-masing pembalapnya, terutama Rosberg yang sejak seri pertama tampil sangat konsisten, tidak pernah absen dari posisi puncak.

Pada seri ke-5 Formula 1 yang digelar di Spanyol pada 15 Mei lalu, seperti balapan-balapan sebelumnya, kedua pembalap Mercedes menguasai sejak dari sesi latihan pertama sampai akhirnya mendapat posisi start berurutan, 1 dan 2, setelah mereka berhasil memenangkan sesi kualifikasi. Hanya saja berbeda dari seri-seri sebelumnya dimana Rosberg biasanya menduduki pole position alias start paling depan, kali ini posisi tersebut dipegang Hamilton, sementara Rosberg berada tepat di belakangnya, di posisi kedua.

Tabrakan Rosberg dan Hamilton di GP Spanyol

Pastinya setelah 4 kali balapan selalu kalah dari rekan satu tim yang tahun lalu dikalahkannya dalam kelasemen akhir kejuaraan dunia, Hamilton merasa inilah saatnya untuk membalik keadaan dan karena itu harus memanfaatkan posisi start terdepan yang dikuasainya untuk meraih kemenangan. Sayangnya ternyata Rosberg melakukan start lebih baik dan melesat merebut posisi pertama di tikungan pertama begitu bendera start dikibarkan. Hamilton yang berusaha merebut kembali posisinya kemudian mengambil resiko yang terlalu besar untuk merebut kembali posisinya dengan berusaha menyalip Rosberg di tikungan ke-3.

Sayangnya manuver beresiko Hamilton tersebut berbuah bencana. Kedua pembalap Mercedes yang berada di posisi terdepan itu justru bertabrakan dan tidak dapat melanjutkan lomba.

Setelah kejadian, tentu ada banyak analisa dan kontroversi. Hanya saja pastinya akhirnya semua kembali kepada steward alias pengawas resmi perlombaan untuk menentukan siapa yang salah dan apa hukuman untuk yang bersalah. Persoalannya siapapun yang salah, tidak ada bedanya bagi Mercedes sebagai tim, karena keduanya adalah pembalap mereka. Dan ketika pengawas lomba akhirnya memutuskan bahwa tidak ada yang mutlak bersalah dan karenanya tidak ada yang dihukum, bagi Mercedes maupun kedua pembalap tersebut, kehilangan kesempatan untuk memenangkan lomba dan mengumpulkan point sudah merupakan “hukuman” tersendiri.

Kronologi Tabrakan Rosberg dan Hamilton

Hamilton start dari posisi terdepan sementara Rosberg berada di posisi kedua. Start Formula 1 menempatkan pembalap dengan posisi start ke-2 tidak bener-benar berada di belakang pemegang pole tetapi bersebelahan, hanya saja tidak sejajar persis, pemegang pole sedikit lebih ke depan.

Ternyata meskipun menempati pole dan dibakar ambisi yang luar biasa, Hamilton gagal melakukan start sempurna. Rosberg melesat lebih dahulu dan begitu memasuki tikungan pertama dia sudah berada di depan Hamilton. Tentunya Hamilton tidak melepaskan rivalnya itu melenggang begitu saja. Selepas tikungan ke-2 mobil Rosberg sedikit melambat sehingga Hamilton mendapatkan momentum. Setelah insiden Rosberg memang mengakui hal itu diakibatkan kesalahannya menekan tombol yang membuat mobilnya tiba-tiba kehilangan sedikit tenaga.

Peluang itu tidak disia-siakan Hamilton. Menurut penjelasannya setelah inside, dia melihat ada celah yang cukup untuk satu mobil melintas baik di sisi luar maupun sisi dalam tikungan. Pastinya sebagai pembalap Hamilton memilih sisi dalam yang lebih pendek untuk menyalip. Mengintip dari spion mobil Hamilton akan mengambil jalur itu, Rosberg segera menutupnya. Sepertinya Hamilton sudah tidak bisa lagi menahan laju mobilnya, sehingga untuk menyelamatkan keadaan Hamilton banting stir sampai menginjak rumput.

Ternyata manuver tersebut justru membuat mobilnya semakin tidak terkendali. Bukannya menyelamatkan keadaan, mobil Hamilton justru berbalik kembali ke atas lintasan secara tidak terkendali dan menabrak mobil Rosberg. Akibat insiden tersebut keduanya tidak dapat melanjutkan balapan.

Setelah insiden Rosberg cenderung menyalahkan Hamilton dengan mengatakan bahwa dirinya tidak habis fikir kenapa Hamilton memaksa masuk ke sisi dalam padahal dia sudah jelas-jelas bergerak menutup jalan. Sementra di sisi lain Hamilton sepertinya tidak ingin memperpanjang polemik. Meskipun tidak secara eksplisit mengakui kalau insiden itu terjadi akibat kesalahannya, tanpa banyak argumen Hamilton langsung menyatakan penyesalan dan permintaan maaf atas insiden tersebut.

Pernyataan Resmi Steward Alias Pengawas Resmi Perlombaan

Kecelakaan tersebut diawali saat mobil no. 6 masuk pada mode yang salah akibat penyetelan yang dilakukan pengemudi sebelum start. Akibatnya terjadi perbedaan tenaga yang cukup tajam antara mobil no. 6 dan mobil no. 44 saat keduanya keluar dari tikungan ke-3 sebelum memasuki jalur lurus. Ada perbedaan kecepatan sekitar 17 kilometer per jam antara kedua mobil itu saat memasuki jalur lurus.

Mobil no. 6 bergerak ke kanan untuk mempertahankan posisinya. Aksi tersebut dibenarkan sesuai dengan artikel 27.7 peraturan perlombaan. Pada saat yang sama, mobil no. 44 yang memiliki kecepatan jauh lebih tinggi melihat ada celah yang memungkinkan untuk menyalip di sisi dalam dan melakukan aksi menyalip. Sebagian sayap depan mobil no. 44 sudah sejajar dengan mobil no. 6 saat dia terpaksa membanting setir ke kanan untuk menghindari tabrakan. Begitu menginjak rumput di sisi lintasan, mobil no. 44 tidak bisa dikendalikan lagi.

Setelah mendengar penjelasan lengkap dari kedua pembalap dan juga dari tim-nya, Stewards (komisi pengawas balapan) berpandangan bahwa mobil no. 6 berhak untuk melalukan manuver yang dilakukannya untuk menutup jalur. Demikian juga upaya mobil no. 44 untuk menyalip dipandang wajar. Karena itu tidak satupun diantara kedua pembalap bisa disalahkan atas kejadian tersebut dan karenanya tidak ada tindakan lebih lanjut.