Pada gelaran MotoGP di Mugello, Italia, akhir pekan lalu yang penuh drama, dua pembalap yang tidak terlalu diunggulkan start di baris depan mendampingi Valentino Rossi yang berada di pole position. Pembalap Suzuki yang tahun depan akan hijrah ke Yamaha, Maverick Vinales, berada di posisi kedua. Menyusul di posisi ketiga ada Andrea Iannone, pembalap Ducati yang tahun depan akan menggantikan Maverick Vinales di tim Suzuki. Selain Rossi, pembalap papan atas lain berada di baris belakang. Marc Marquez (Honda) di posisi keempat, Jorge Lorenzo (Yamaha) di posisi kelima, dan Dani Pedrosa (Honda) berada di posisi ke-7.

Tetapi belum habis satu putaran selepas start, semua pembalap yang tadinya memulai balapan berderet di baris pertama posisinya langsung melorot. Sebagai satu-satunya pembalap unggulan yang start dari baris depan, Rossi turun ke posisi kedua. Sementara kedua pembalap lain melorot lebih jauh lagi. Vinales turun ke posisi ke-11 sementara Iannone turun ke posisi ke-12. Sementara pembalap yang start di baris belakang justru merangsek ke depan, terutama Lorenzo yang menyodok dari posisi kelima menjadi yang terdepan.

Selepas lomba Vinales menjelaskan bahwa ada masalah elektronik yang menyebabkan motor yang ditungganginya kehilangan tenaga begitu balapan dimulai sehingga dia dapat dengan mudah dilewati 10 pembalap lain yang menyebabkan posisinya melorot dari kedua menjadi ke-11. Untungnya kemudian Vinales mampu kembali bersaing dan mengejar beberapa pembalap di depannya sehingga saat balapan berakhir dia sudah berada di posisi ke-6. Vinales sendiri menyatakan tidak mengetahui secara persis penyebab masalah yang dialaminya, tetapi masalah tesebut hilang setelah dia mengganti posisi gir.

Demikian yakin dengan kemampuannya sendiri dan tentunya performa motor Suzuki yang ditungganinya, Vinales menyatakan kalau saja dia tidak mengalami masalah di awal balapan, dia bisa mengakhiri lomba di atas podium. “Setelah saya melewati para pebalap lain, saya punya kecepatan yang sama dengan Jorge dan Marc. Dengan start yang bagus, saya bisa saja ada di depan sana,” ucapnya seperti ditulis detik.com. Lebih lanjut Vinales menjelaskan bahwa dia tidak bisa berbuat lebih banyak dan terpaksa puas dengan finis di posisi ke-6 karena kondisi bannya yang sudah terlalu parah untuk bertarung habis-habisan.

Benarkah demikian? Apakah bukan hanya keyakinan dirinya saja yang terlalu besar? Atau malah hanya sekedar mulut besar untuk menutupi rasa malu karena meskipun memulai balapan dari posisi kedua dia akhirnya hanya mengakhiri balapan di posisi ke-6?

Tidak perlu diragukan lagi, Vinales adalah pembalap yang sangat berbakat. Yang melihat itu bukan hanya orang awam seperti kebanyakan dari kita, buktinya Yamaha memilihnya untuk menggantikan kursi yang ditinggalkan Lorenzo. Performa Suzuki-pun layak diacungi jempol. Belum lama kembali ke arena MotoGP, Suzuki sudah kembali mampu bersaing dengan tim-tim papan atas meskipun belum benar-benar sejajar dengan dua tim unggulan, Yamaha dan Honda. Tapi apakah pernyataan Vinales tadi benar adanya?

Mari kita bandingkan dengan pembalap papan tengah lain yang memiliki nasib sama sialnya, bahkan lebih sial, di awal balapan tetapi dapat mengakhirinya dengan lebih gemilang. Dengan motor Ducati yang ditungganginya, Iannone memulai balapan dari posisi ketiga, sedikit lebih buruk dari Vinales yang memulai balapan dari posisi kedua. Selepas start, dengan alasan yang belum terungkap, Iannone juga terlempar ke posisi ke-12, lagi-lagi sedikit lebih buruk dari Vinales yang terlempar ke posisi ke-11.

Tetapi di akhir lomba, Iannone berada di podium, posisi ketiga persis seperti saat dia memulai balapan, sementara Vinales hanya berada di posisi ke-6.

Sama seperti Vinales, Iannone juga menyatakan bahwa dia memiliki kecepatan yang sebanding dengan Lorenzo dan Marquez. Detik.com menulis “Iannone percaya bahwa dia punya kecepatan untuk bersaing dengan Jorge Lorenzo dan Marc Marquez”.

Sedikit analisa dengan logika bodoh saja. Iannone merasa punya kecepatan sebanding dengan Lorenzo dan Marquez. Dari posisi ke-12 dia berhasil finish di posisi ketiga, persis di belakang kedua pembalap yang disebut tadi. Rasanya sangat masuk akal. Bagaimana dia bisa mengejar dua pembalap di depan yang punya kecepatan seimbang dengannya sementara dia harus merangkak naik terlebih dahulu dari posisi ke-12?

Lalu coba kita bandingkan dengan Vinales yang juga menyatakan punya kecepatan yang seimbang dengan Lorenzo dan Marquez. Kenyataanya dia hanya bisa membawa motornya dari posisi ke-11 naik ke posisi ke-6. Karena awalnya Iannone berada di posisi ke-12, artinya ada satu titik dimana Iannone menyalip Vinales. Kalau demikian adanya, apa iya Vinales memiliki kecepatan yang seimbang dengan Lorenzo dan Marquez? Jelas-jelas Iannone saja jauh lebih cepat dari dia.

Tapi memang seringkali mulut besar merupakan bagian dari perang urat syaraf alias psywar dalam sebuah pertandingan. Di lintasan MotoGP kita mengenal beberapa pembalap yang cenderung rendah hati dan lebih memilih menunjukkan kemampuannya dengan prestasi, bukan dengan mulut. Sebut saja Casey Stoner dan Marc Marquez sebagai contoh. Tetapi banyak juga pembalap yang cenderung berusaha menekan mental saingannya dengan ucapan yang cenderung melebih-lebihkan. Mungkin inilah jalan yang dipilih Vinales.

Agak sulit melihat apakah prestasi Vinales sebasar mulutnya sementara dia masih mengendarai motor yang performanya sedikit dibawah. Kita tunggu tahun depan, saat dia membalap dengan motor yang dikenal sebagai motor paling hebat di MotoGP dan sudah memberikan pembalapnya bukan hanya kemenangan tetapi banyak gelar juara dunia.