MotoGP

Home/MotoGP

Vinales: Besar Mulut Atau Memang Hebat?

Pada gelaran MotoGP di Mugello, Italia, akhir pekan lalu yang penuh drama, dua pembalap yang tidak terlalu diunggulkan start di baris depan mendampingi Valentino Rossi yang berada di pole position. Pembalap Suzuki yang tahun depan akan hijrah ke Yamaha, Maverick Vinales, berada di posisi kedua. Menyusul di posisi ketiga ada Andrea Iannone, pembalap Ducati yang tahun depan akan menggantikan Maverick Vinales di tim Suzuki. Selain Rossi, pembalap papan atas lain berada di baris belakang. Marc Marquez (Honda) di posisi keempat, Jorge Lorenzo (Yamaha) di posisi kelima, dan Dani Pedrosa (Honda) berada di posisi ke-7.

Tetapi belum habis satu putaran selepas start, semua pembalap yang tadinya memulai balapan berderet di baris pertama posisinya langsung melorot. Sebagai satu-satunya pembalap unggulan yang start dari baris depan, Rossi turun ke posisi kedua. Sementara kedua pembalap lain melorot lebih jauh lagi. Vinales turun ke posisi ke-11 sementara Iannone turun ke posisi ke-12. Sementara pembalap yang start di baris belakang justru merangsek ke depan, terutama Lorenzo yang menyodok dari posisi kelima menjadi yang terdepan.

Selepas lomba Vinales menjelaskan bahwa ada masalah elektronik yang menyebabkan motor yang ditungganginya kehilangan tenaga begitu balapan dimulai sehingga dia dapat dengan mudah dilewati 10 pembalap lain yang menyebabkan posisinya melorot dari kedua menjadi ke-11. Untungnya kemudian Vinales mampu kembali bersaing dan mengejar beberapa pembalap di depannya sehingga saat balapan berakhir dia sudah berada di posisi ke-6. Vinales sendiri menyatakan tidak mengetahui secara persis penyebab masalah yang dialaminya, tetapi masalah tesebut hilang setelah dia mengganti posisi gir.

Demikian yakin dengan kemampuannya sendiri dan tentunya performa motor Suzuki yang ditungganinya, Vinales menyatakan kalau saja dia tidak mengalami masalah di awal balapan, dia bisa mengakhiri lomba di atas podium. “Setelah saya melewati para pebalap lain, saya punya kecepatan yang sama dengan Jorge dan Marc. Dengan start yang bagus, saya bisa saja ada di depan sana,” ucapnya seperti ditulis detik.com. Lebih lanjut Vinales menjelaskan bahwa dia tidak bisa berbuat lebih banyak dan terpaksa puas dengan finis di posisi ke-6 karena kondisi bannya yang sudah terlalu parah untuk bertarung habis-habisan.

Benarkah demikian? Apakah bukan hanya keyakinan dirinya saja yang terlalu besar? Atau malah hanya sekedar mulut besar untuk menutupi rasa malu karena meskipun memulai balapan dari posisi kedua dia akhirnya hanya mengakhiri balapan di posisi ke-6?

Tidak perlu diragukan lagi, Vinales adalah pembalap yang sangat berbakat. Yang melihat itu bukan hanya orang awam seperti kebanyakan dari kita, buktinya Yamaha memilihnya untuk menggantikan kursi yang ditinggalkan Lorenzo. Performa Suzuki-pun layak diacungi jempol. Belum lama kembali ke arena MotoGP, Suzuki sudah kembali mampu bersaing dengan tim-tim papan atas meskipun belum benar-benar sejajar dengan dua tim unggulan, Yamaha dan Honda. Tapi apakah pernyataan Vinales tadi benar adanya?

Mari kita bandingkan dengan pembalap papan tengah lain yang memiliki nasib sama sialnya, bahkan lebih sial, di awal balapan tetapi dapat mengakhirinya dengan lebih gemilang. Dengan motor Ducati yang ditungganginya, Iannone memulai balapan dari posisi ketiga, sedikit lebih buruk dari Vinales yang memulai balapan dari posisi kedua. Selepas start, dengan alasan yang belum terungkap, Iannone juga terlempar ke posisi ke-12, lagi-lagi sedikit lebih buruk dari Vinales yang terlempar ke posisi ke-11.

Tetapi di akhir lomba, Iannone berada di podium, posisi ketiga persis seperti saat dia memulai balapan, sementara Vinales hanya berada di posisi ke-6.

Sama seperti Vinales, Iannone juga menyatakan bahwa dia memiliki kecepatan yang sebanding dengan Lorenzo dan Marquez. Detik.com menulis “Iannone percaya bahwa dia punya kecepatan untuk bersaing dengan Jorge Lorenzo dan Marc Marquez”.

Sedikit analisa dengan logika bodoh saja. Iannone merasa punya kecepatan sebanding dengan Lorenzo dan Marquez. Dari posisi ke-12 dia berhasil finish di posisi ketiga, persis di belakang kedua pembalap yang disebut tadi. Rasanya sangat masuk akal. Bagaimana dia bisa mengejar dua pembalap di depan yang punya kecepatan seimbang dengannya sementara dia harus merangkak naik terlebih dahulu dari posisi ke-12?

Lalu coba kita bandingkan dengan Vinales yang juga menyatakan punya kecepatan yang seimbang dengan Lorenzo dan Marquez. Kenyataanya dia hanya bisa membawa motornya dari posisi ke-11 naik ke posisi ke-6. Karena awalnya Iannone berada di posisi ke-12, artinya ada satu titik dimana Iannone menyalip Vinales. Kalau demikian adanya, apa iya Vinales memiliki kecepatan yang seimbang dengan Lorenzo dan Marquez? Jelas-jelas Iannone saja jauh lebih cepat dari dia.

Tapi memang seringkali mulut besar merupakan bagian dari perang urat syaraf alias psywar dalam sebuah pertandingan. Di lintasan MotoGP kita mengenal beberapa pembalap yang cenderung rendah hati dan lebih memilih menunjukkan kemampuannya dengan prestasi, bukan dengan mulut. Sebut saja Casey Stoner dan Marc Marquez sebagai contoh. Tetapi banyak juga pembalap yang cenderung berusaha menekan mental saingannya dengan ucapan yang cenderung melebih-lebihkan. Mungkin inilah jalan yang dipilih Vinales.

Agak sulit melihat apakah prestasi Vinales sebasar mulutnya sementara dia masih mengendarai motor yang performanya sedikit dibawah. Kita tunggu tahun depan, saat dia membalap dengan motor yang dikenal sebagai motor paling hebat di MotoGP dan sudah memberikan pembalapnya bukan hanya kemenangan tetapi banyak gelar juara dunia.

Kegagalan Menyakitkan Valentino Rossi di Kandang Sendiri

Setiap seri gelaran MotoGP memang selalu menegangkan dan karena itu sangat ditunggu-tunggu penggemarnya. Tetapi seri ke-6 yang baru saja digelar di Autodromo del Mugello, Italia, pada tanggal 22 Mei lalu menyuguhkan drama yang luar biasa, lebih menegangkan dari seri-seri lainnya. Tidak bisa dipungkiri, drama perpindahan para pembalap di tim-tim papan atas membawa pengaruh tersendiri.

Jika pada seri-seri sebelumnya pembalap Yamaha yang tahun depan akan hijrah ke Ducati, Jorge Lorenzo, mendominasi sejak sesi-sesi latihan, di Mugello yang merupakan kampung halaman rival sekaligus rekan setimnya, Valentino Rossi, Jorge Lorenzo tampil relatif buruk baik pada sesi latihan pertama, kedua, maupun ketiga, bahkan pada saat kualifikasi. Lorenzo mengeluhkan masalah keseimbangan pada motor yang membuatnya kesulitan menyuguhkan penampilan terbaiknya.

Jika biasanya Lorenzo menguasai pole position atau setidaknya memulai balapan dari baris terdepan, pada sesi kualifikasi yang diwarnai sedikit kontroversi di Mugello dia terlempar dari baris terdepan. Lorenzo mengawali start dari baris kedua di posisi ke-5. Berdampingan dengan pembalap Honda, Marc Marquez yang berada di posisi ke-4 dan Pembalap Suzuki, Aleix Espargaro, di posisi ke-6. Berurutan di baris terdepan ada Valentino Rossi (Yamaha), Maverick Vinales (Suzuki), dan Andrea Iannone (Ducati).

masalah-mesin-valentino-rossiLorenzo sempat melontarkan sindiran yang menuding bahwa Valentino Rossi mendapatkan hasil bagus pada sesi kualifikasi dengan cara yang kurang terpuji, dengan pola tertentu saling membantu dengan Maverick Vinales, pembalap Suzuki yang tahun depan akan mendampingi Rossi di tim Yamaha sepeninggal Lorenzo. Vinales sendiri kemudian meraih posisi ke-2 sehingga berhak untuk memulai balapan bersebelahan dengan Rossi di baris terdepan. Pandangan Lorenzo ini sempat didukung oleh rekan senegaranya, pembalap Honda, Marc Marquez.

Ternyata Lorenzo melakukan start yang luar biasa. Begitu balapan dimulai dia langsung merangsek ke depan dan menguntit Rossi yang melesat dari posisi terdepan. Sesaat kemudian, tepatnya pada tikungan pertama selepas start, Lorenzo sudah berhasil mendahului Rossi dan memimpin balapan.

finish-motogp-mugello-2016Selama beberapa lap Rossi terus menguntit Lorenzo, sementara di belakang mereka sejumlah pembalap berebut memperbaiki posisi. Dua pembalap yang start di baris terdepan mendampingi Rossi justru gagal memaksimalkan posisinya begitu balapan dimulai. Vinales terlempar ke posisi ke-9 sementara Iannone melorot ke posisi ke-7. Beberapa kali Rossi melakukan manuver menyalip Lorenzo, tapi selalu gagal. Meskipun belum membuahkan hasil, kemampuan Rossi untuk mencoba menyalip hampir di setiap lap menunjukkan bahwa performa motor yang dikendarainya sangat mumpuni.

Sayangnya motor yang dikendarai Rossi tiba-tiba kehilangan kecepatan dan membuatnya disalip pembalap-pembalap di belakangnya. Beberapa saat kemudian muncul asap tipis yang tiba-tiba menebal dari mesinnya. Rossi tidak dapat melanjutkan balapan dan gagal memanfaatkan momentum positif yang dimilikinya sepanjang akhir pekan menjadi kemenangan. Sementara di lintasan Lorenzo melenggang dengan leluasa di posisi terdepan, memimpin beberapa detik dari Marc Marquez yang berada di belakangnya.

podium-motogp-mugello-2016Ternyata secara perlahan Yamaha yang dikendarai Lorenzo nampak melambat sementara Honda yang ditunggangi Marquez justru semakin mengganas, memotong jarak sepersekian detik setiap lap sehingga akhirnya berhasil mengejar ketertinggalannya. Pada lap-lap akhir, Marquez seperti menggantikan Rossi, mengasapi Lorenzo, bahkan dia beberapa kali mencoba menyalip namun selalu berhasil ditutup Lorenzo.

Akhirnya Marquez berhasil menyalip Lorenzo justru pada lap terakhir, di tikungan terakhir menjelang finish. Sepertinya Marquez menunggu momentum ini. Berusaha mendapatkan posisi bagus untuk menyalip dan melakukannya di tikungan terakhir sehingga Lorenzo tidak lagi mempunyai kesempatan untuk merebut kembali posisinya. Ternyata perhitungan Marquez salah. Yamaha yang dikendarai Lorenzo ternyata memiliki akselerasi yang jauh lebih dahsyat sehingga begitu memasuki trek lurus menjelang finish, Lorenzo berhasil merebut kembali posisinya sehingga menginjak garis finish lebih dahulu dengan selisih yang sangat-sangat tipis.

Kemenangan Lorenzo mengukuhkannya sebagai pembalap MotoGP paling sukses di Mugello, memenangi 5 dari 8 balapan terakhir.

Hasil ini seperti membalik posisi dibandingkan dengan posisi start. Hanya Andrea Iannone yang memulai balap dari baris depan di posisi ke-3 yang kemudian finish di posisi yang sama meskipun sebelumnya sempat melorot. Dari baris belakang, start di posisi ke-5, Lorenzo berhasil memenangkan balapan. Sementara Marquez yang finish di posisi kedua memulai balapan dari posisi ke-4. Rossi yang memulai balapan dari pole position harus berhenti lebih awal. Sementara Vinales yang start dari posisi ke-2 harus puas finish di posisi ke-5, diikuti rekan setimnya dari Suzuki, Aleix Espargaro, yang memulai balapan dari posisi ke-6 dan finish juga di posisi ke-6.

Ada yang menarik kalau diperhatikan. Iannone start di posisi ke-3, posisi terakhir di baris terdepan. Espargaro start di posisi ke-6, posisi terakhir di baris kedua. Keduanya menyudahi balapan di posisi yang persis sama.

Benarkah Sudah Pasti Pedrosa Pindah ke Yamaha?

Sampai musim kompetisi tahun 2016 ini berakhir di Valencia, Dani Pedrosa memang masih akan tetap membalap untuk tim Repsol Honda. Meskipun demikian ada media Spanyol yang menyatakan bahwa dia sebenarnya sudah menandatangani kontrak dengan Movistar Yamaha. Hanya saja sampai saat ini memang belum ada pernyataan resmi dari semua fihak yang terlibat. Jadi bagaimanapun untuk saat ini kebenarannya masih tetap layak dipertanyakan. Apakah sekedar gosip atau memang benar-benar fakta.

Dengan berakhirnya kontrak sejumlah pembalap papan atas di penghujung musim, MotoGP tahun ini memang sudah sejak awal musim diliputi rumor, yang kemudian menjadi semakin liar setelah Yamaha dan Valentino Rossi mengumumkan bahwa mereka sudah menyepakati perpanjangan kontrak untuk dua musim mendatang, 2017 dan 2018. Berita itu disusul dengan pengumuman hengkangnya pembalap asal Inggris, Bradley Smith, dari Monster Yamaha Tech 3 untuk kemudian menjadi pembalap KTM pada saat tim pabrikan itu memulai kiprahnya di arena MotoGP pada tahun 2017 mendatang.

Seolah menjadi puncak simpang-siurnya berita, Ducati mengkonfirmasi bahwa Jorge Lorenzo sudah mengikat kontrak untuk membalap di atas Desmosedici GP mulai tahun depan, yang artinya juga mengakhiri kebersamaan selama 8 tahun Lorenzo dengan Yamaha. Akan menjadi 9 tahun saat Lorenzo benar-benar melepaskan seragam birunya di akhir musim ini.

Putaran rumor semakin seru, sementara di sisi lain baik pembalap maupun manajemen tim justru lebih ketat menjaga mulut mereka. Apalagi yang menjadi topik utama selain pengganti Lorenzo di Yamaha.

Serunya pusaran rumor juga dibumbui dengan pernyataan-pernyataan yang justru lebih memperuncing spekulasi dari sosok-sosok yang dianggap “mengetahui sesuatu”. Salah satunya saat Valentino Rossi ditanya wartawan mengenai siapa pembalap pendamping yang diharapkannya, dia secara diplomatis menjawab bahwa dia hanya memikirkan balapan dan karenanya siapapun yang dipilih Yamaha untuk menggantikan Lorenzo tidak terlalu dipikirkannya. Meskipun begitu dia menambahkan bahwa Movistar sebagai sponsor utama Yamaha mengharapkan agar Yamaha tetap memiliki pembalap asal Spanyol.

Dua pembalap yang diyakini banyak kalangan merupakan kandidat terkuat pilihan yamaha, Vinales dan Pedrosa, keduanya berasal dari Spanyol. Jadi mungkin bagi Yamaha, yang manapun yang akhirnya terpilih tidaklah terlalu menjadi persoalan. Hanya saja konon, menurut kabar yang berhembus terbawa angin, Yamaha tidak akan mau mengeluarkan lebih dari 5 juta Euro untuk mendapatkan Vinales. Konon itulah angka yang ditawarkan Suzuki untuk mempertahankannya.

Sejumlah media Spanyol seperti El Pais dan MCN sudah menyebut bahwa Pedrosa-lah yang akan mendampingi Rossi tahun depan. Mereka menyatakan bahwa sudah pasti Pedrosa pindah ke Yamaha. Bahkan sebuah stasiun radio yang berbasis di Catalan, Cadena SER, menyarkan pernyataan dari seorang wartawan Spanyol bernama Nadia Tronchoni yang menyatakan bahwa pengumuman resminya akan dilakukan di Mugello.

Nama Dani Pedrosa sebetulnya baru belakangan dihubungkan dengan Yamaha, jauh setelah Vinales. Tetapi sepertinya kabar tersebut sangat cepat menguat. Salah satu penyebabnya diyakini adalah keberadaan Movistar yang saat ini menjadi sponsor utama tim Yamaha. Movistar merupakan sponsor tim Honda di kelas 125cc dan 250cc saat Pedrosa mengumpulkan 3 gelar juara dunia di kedua kelas tersebut. Saat Pedrosa naik ke kelas MotoGP bersama Repsol Honda, Movistar menganggapnya sebagai kehilangan aset yang paling penting.

Jadi pasti Movistar akan sangat senang mendapatkan Pedrosa kembali di tim Yamaha yang disokongnya. Sementara untuk Yamaha sendiri sepertinya melihat performa Pedrosa di lintasan juga lebih menjanjikan daripada Vinales. Terutama karena Pedrosa sudah sangat terbiasa dengan motor papan atas. Kalau sampai Pedrosa benar-benar meninggalkan Honda untuk bergabung dengan Yamaha, sisi melankolisnya tidak akan jauh berbeda dengan Lorenzo. Pedrosa sudah bersama Honda sejak debutnya di kelas MotoGP di tahun 2006.

Hanya saja kalau Pedrosa yang kemudian masuk mendampingi Rossi, maka dari sekarang Yamaha harus sudah mulai menyiapkan dua pembalap muda sekaligus. Kemungkinan besar Rossi akan pensiun dari MotoGP saat kontraknya dengan Yamaha berakhir. Sementara itu kalau selama dua tahun kontraknya bersama Yamaha prestasi Pedrosa tidak cukup cemerlang, kemungkinan besar Yamaha tidak akan mau memperpanjang kontraknya. Jika skenario ini benar-benar terjadi, dua tahun yang akan datang Yamaha kemungkinan besar akan melepas kedua pembalapnya.

5 Alasan yang Mengharuskan Maverick Vinales Pindah ke Yamaha

Sejak keputusan yang dibuat Jorge Lorenzo pindah ke Ducati terkonfirmasi, Yamaha memang sibuk mencari pengganti untuk dipasangkan dengan Valentino Rossi yang sudah sejak awal memutuskan untuk tetap membela Yamaha. Maverick Viñales yang saat ini membalap untuk tim Suzuki Ecstar digadang-gadang menjadi incaran utama Yamaha. Sementara pembalap yang bersangkutan belum banyak berbicara, banyak pengamat memberikan pendapat berbeda, bahkan bertentangan. Apakah sebaiknya Viñales menerima tawaran Yamaha atau tetap bertahan di Suzuki.

Bagi kebanyakan pembalap MotoGP, tawaran salah satu tim terkuat seperti Yamaha mungkin akan langsung diterima. Tapi ternyata Viñales memilih untuk berfikir lebih panjang sebelum mengambil keputusan.

Tidak diragukan lagi, Yamaha bukan hanya salah satu diantara beberapa tim terkuat di MotoGP, Yamaha berada di puncak jajaran tim terkuat itu. Selama 8 tahun terakhir Yamaha mendominasi MotoGP, dimana meskipun menghadapi persaingan ketat, selama periode itu Yamaha mencatatkan kemenangan terbanyak dibandingkan rival-rivalnya.

Dengan bergabung bersama Yamaha, Viñales akan langsung melesat ke papan atas. Berada di baris terdepan setiap balapan dan bersaing untuk meraih kemenangan. Berdiri sejajar di antara segelintir pembalap paling kompetitif seperti Marquez, Lorenzo, dan tentunya Rossi sendiri sebagai rekan setimnya. Meskipun begitu, di Suzuki Viñales memiliki posisi yang nyaman sebagai pembalap utama. Sementara jika Viñales pindah ke Yamaha, dia hanya akan menjadi pembalap kedua sebagai pendamping Valentino Rossi.

Pertnyaannya adalah apakah dengan pengalaman yang masih sangat minim, tahun ini adalah musim keduanya di kelas primer MotoGP, Viñales benar-benar sudah siap berada di posisi itu atau justru lebih memilih untuk menarik nafas lebih dalam dulu. Tentu sebagai seorang pembalap, Viñales lebih memilih motor yang sanggup memberinya gelar juara secepatnya. Pastinya kalau saja Suzuki mampu memberikannya, dia tidak akan mau meninggalkan posisi nyamannya sebagai pembalap utama di tim Suzuki.

Sayangnya meskipun motor Suzuki menunjukkan kemajuan pesat sejak kembali ke lintasan MotoGP dan timnya menyatakan komitmen penuh untuk terus mengembangkan motornya agar dapat bersaing di papan atas, sampai saat ini motor Suzuki belum sebanding dengan Yamaha. Motor Yamaha bukan hanya berpotensi akan menjadi motor yang kompetitif, tim Yamaha bukan hanya berkomitmen untuk mengembangkan motornya agar menjadi salah satu motor paling kompetitif. Saat ini Yamaha memiliki motor paling kompetitif … titik.

Viñales bisa saja bertahan di Suzuki. Apakah Suzuki benar-benar sukses mengembangkan motornya menjadi yang paling kompetitif, mungkin perlu setidaknya 2 tahun untuk melihatnya. Dan pastinya selama itu Yamaha juga tidak tinggal diam. Memiliki motor paling kompetitif tidak akan membuat Yamaha menghentikan pengembangan. Kenyataanya mengembangkan potensi motor dari kondisi motor Yamaha saat ini pastinya jauh lebih mudah dibandingkan mengembangkan potensi motor Suzuki dari kondisinya saat ini.

Sementara itu jika Viñales melewatkan tawaran Yamaha saat ini dan ternyata Suzuki gagal menciptakan motor yang kompetitif, belum tentu juga tawaran Yamaha masih akan terbuka. Kalau dengan penolakan Viñales kemudian Yamaha menemukan pembalap yang cocok, tentu Yamaha tidak akan punya alasan untuk mengganti. Jadi pilihan menolak tawaran Yamaha ini benar-benar sangat beresiko terhadap kelangsungan karir Viñales di MotoGP, terutama kesempatannya menjadi salah satu pembalap papan atas bahkan mungkin meraih gelar juara dunia.

Berikut adalah 5 alasan mengapa seharusnya Viñales pindah ke Yamaha, menurut Manuel Pecino, kolumnis pada saluran berita otomotif sportrider.com

Motor Paling Kompetitif

Bukan rahasia lagi bahwa Yamaha M1 adalah motor yang memiliki keseimbangan terbaik di MotoGP. Perlu dicatat bahwa keseimbangan merupakan salah satu faktor terpenting kalau bukan yang terpenting dari sebuah motor. Meskipun memiliki tenaga dahsyat dan sanggup melesat dengan kecepatan sangat tinggi, jika keseimbangannya kurang baik, motor menjadi sulit dikendalikan.

Dalam 8 tahun terakhir, Yamaha memenangkan 5 gelar juara dunia MotoGP. Jadi sangat jelas bahwa motor Yamaha bukan hanya salah satu diantara yang paling kompetitif tetapi memang motor paling kompetitif di lintasan MotoGP. Yamaha M1 memang memiliki sejarah panjang sebagai basis motor terbaik. Sejak 2005, M1 tidak pernah mengalami perubahan mendasar, hanya penyempurnaan yang terus menerus dilakukan, karena dasarnya memang sudah sangat mumpuni. Karena itu dapat dipastikan dengan bergabung bersama Yamaha, Viñales akan langsung mendapatkan motor yang hebat dari awal.

Valentino Rossi

Banyak yang mengatakan bahwa sebagai pembalap muda, Viñales akan belajar banyak dengan mendampingi maestro sekelas Valentino Rossi. Tentunya dengan asumsi bahwa keduanya dapat berteman baik setelah bergabung di dalam satu tim. Bukan soal balapan pastinya. Karena berada dalam satu tim dengannya, Valentino Rossi akan langsung menganggap Viñales sebagai pesaing paling berbahaya alih-alih sebagai anak asuh. Kita bisa melihat bagaimana Valentino Rossi memperlakukan Jorge Lorenzo pada saat dia baru masuk menjadi pendampingnya di Yamaha. Padahal saat itu Lorenzo bahkan merupakan seorang rookie.

Tetapi justru dengan sikap Rossi itu Lorenzo justru belajar sangat banyak dari sisi mental dimana Rossi memberikan contoh yang sangat baik bagaimana caranya agar tetap fokus mengejar kemenangan. Banyak pengamat menilai sekarang kemampuan Lorenzo untuk tetap tenang dan menjaga fokus dengan baik sudah melebihi Rossi. Sebagai pembalap muda Viñales pasti akan belajar lebih banyak berada di posisi pendamping Rossi daripada menjadi pembalap utama tanpa ada sosok yang lebih berpengalaman.

Langsung Siap Jadi Juara

Bersama tim dengan pengalaman segudang seperti Yamaha dan motor setangguh M1 akan membuat Viñales meloncat mendekati tujuannya sebagai pembalap, kemenangan. Jika selama ini bersama Suzuki Viñales hanya mengejar target agar bisa masuk podium, bersama Yamaha target podium sudah terlalu kecil. Bersama Yamaha dia akan melesat mengejar kemenangan, bahkan meraih gelar juara dunia. Alih-alih menghabiskan dua tahun tanpa kepastian bersama Suzuki, dua tahun bersama Yamaha akan memberi Viñales pengalaman berharga sekaligus membawanya ke dalam jajaran pembalap paling top di MotoGP.

Karir di Yamaha

Kemungkinan besar Rossi akan mengakhiri karir balapnya setelah dua tahun kontrak barunya bersama Yamaha berakhir. Jika sekarang Viñales masuk menjadi pendamping Rossi, maka dalam 2 tahun dia kemungkinan besar akan menjadi pembalap utama. Memang sekarang di Suzuki dia menjadi pembalap utama, tapi menjadi pembalap utama Yamaha dengan segudang kedigdayaannya adalah sesuatu yang sangat berbeda. Status sebagai pembalap utama di Suzuki menghasilkan podium, status sebagai pembalap utama Yamaha bisa menghasilkan gelar juara.

Kesempatan Tidak Datang Dua Kali

Umur 21 tahun bukanlah umur yang muda di MotoGP. Jauh sebelum menginjak usia itu Marc Marquez sudah menjadi juara dunia. Meskipun begitu, juga tidak terlalu tua, Valentino Rossi sekarang berusia 37 tahun. Kalau Viñales membuang waktunya 2 tahun lagi di Suzuki dan ternyata perkembangan Suzuki tidak seperti yang diharapkan, usianya baru akan mencapai 23 tahun. Kalau saat itu dia memutuskan untuk keluar dari Suzuki, pasti akan ada tim lain yang menerimanya. Meskipun begitu kesempatan untuk membalap bersama Yamaha belum tentu terbuka lagi.

Akhirnya Jorge Lorenzo Pindah ke Ducati

Spekulasi yang sudah berminggu-minggu merebak akhirnya terjawab sudah. Setelah 8 tahun bersama tim pabrikan MoviStar Yamaha, akhirnya Jorge Lorenzo pindah ke Ducati mulai tahun 2017 yang akan datang setelah kontrak berdurasi 2 tahun ditandatanganinya. Keputusan tersebut pastinya merupakan keputusan yang sangat besar mengingat sejak naik ke kelas MotoGP pada tahun 2008 lalu Lorenzo tidak pernah berpindah tim, bahkan beberapa tahun lalu pernah menyatakan keinginannya untuk pensiun di Yamaha.

Bersama Yamaha Lorenzo mengumpulkan 41 kemenangan dan 3 gelar juara dunia. Sementara itu Ducati tidak pernah lagi mengecap kemenangan sejak ditinggal Casey Stoner di penghujung tahun 2010. Sepanjang kiprahnya di ajang MotoGP, pabrikan papan atas Italia tersebut hanya satu kali menggondol gelar juara dunia melalui Stoner pada tahun 2007.

Perjuangan Ducati untuk mendapatkan Lorenzo tidaklah mudah. Diketahui sudah mengincar Lorenzo sejak tahun 2009 saat Stoner mengalami gangguan fisik yang akhirnya memaksanya meninggalkan MotoGP, Ducati selalu gagal mendapatkan tanda tangan pembalap incarannya itu karena Lorenzo selalu setia dengan Yamaha. Meskipun akhirnya Ducati berhasil menarik rekan setim Lorenzo, Valentino Rossi dari Yamaha, ternyata bahkan sang legenda itupun tidak sanggup membawa Ducati meraih kemenangan sampai akhirnya Rossi kembali ke Yamaha dan bergabung lagi bersama Lorenzo.

Meskipun kedua fihak sudah mencapai kesepakatan, baik Ducati maupun Lorenzo tidak membuat pernyataan apapun sampai Yamaha memberikan konfirmasi keputusan Lorenzo meninggalkan Yamaha di penghujung musim 2016 ini. Barulah Ducati membuat pernyataan singkat berikut:

Dengan ini kami umumkan bahwa Ducati telah mencapai kesepakatan dengan Jorge Lorenzo. Kami sangat berterimakasih karena pembalap Spanyol ini bersedia bergabung untuk mengejar gelar juara dunia MotoGP pada musim 2017 dan 2018 dengan mengendarai Ducati Desmosedici GP bersama Tim Ducati. Lorenzo yang lahir di Palma de Mallorca pada tanggal 4 Mei 1987 ini mengantongi 5 gelar juara dunia sepanjang karir balapnya (2006 dan 2007 di kelas 250cc serta 2010, 2012, dan 2015 di kelas MotoGP).

Alasan Lorenzo Pindah ke Ducati

Pengumuman tersebut tidak serta-merta menghentikan spekulasi. Kali ini mengenai alasan yang melunturkan kesetiaan Lorenzo pada Yamaha sehingga akhirnya bersedia menerima pinangan Ducati untuk membalap di atas Desmosedici, padahal sejarah panjang sudah membuktikan bahkan sosok pembalap sekelas Valentino Rossi-pun gagal menjinakannya. Sebelum Rossi, Desmosedici sudah memakan banyak “korban” yang rata-rata pembalap papan atas dengan pengalaman segudang seperti Loris Capirossi, Nicky Hayden, Sete Gibernau, dan beberapa nama lainnya.

Apakah Lorenzo yakin dia bisa seberuntung Casey Stoner, satu satunya pembalap yang sukses merebut gelar juara dunia MotoGP dengan mengendarai Ducati Desmosedici GP?

Ducati Desmosedici GP Semakin Kompetitif

Banyak analis meyakini bahwa meskipun gagal membawa gelar juara dunia ke kandang Ducati, kehadiran Valentino Rossi membawa banyak manfaat dalam pengembangan motor sehingga sepeninggal Rossi, Ducati selalu menempatkan pembalapnya persis di bawah keempat pembalap dari tim unggulan, Yamaha dan Honda, yang bergantian menguasai gelar juara dunia. Tahun 2014 Andrea Dovizioso berada di urutan 5 kelasemen akhir, seentara tahun 2015 Ducati juga menempatkan pembalapnya Andrea Iannone, di posisi yang sama.

Kehadiran Casey Stoner sebagai pembalap penguji semakin meyakinkan banyak kalangan bahwa pengembangan Ducati untuk Desmosedici GP sudah mencapai titik dimana motor ini cukup kompetitif untuk bersaing melawan Yamaha dan Honda. Kedua pembalap Ducati, Andrea Dovizioso dan Andrea Iannone semakin sering meraih pole position bahkan muncul di atas podium. Yang belum mereka dapatkan tinggal dominasi yang konsisten seperti yang ditunjukkan Lorenzo, Rossi, Marquez, dan Pedrosa.

Kehadiran Orang Dekat Lorenzo di Ducati

Faktor lain yang dipercayai memuluskan jalan Ducati untuk mendapatkan tanda tangan Lorenzo adalah masuknya Gigi Dall’Igna yang pindah dari Aprilia. Kita mungkin jarang mendengar namanya. Gigi merupakan salah satu sosok penting di awal karir Lorenzo. Dengan dukungannya, Lorenzo berhasil mengantongi dua gelar juara dunia di kelas 250cc sebelum akhirnya naik kelas. Konon kedekatan Lorenzo dan Gigi tetap terjalin meskipun kemudian Lorenzo bergabung dengan Yamaha saat menapaki kelas primer MotoGP.

Keinginan Lorenzo Mengalahkan Valentino Rossi

Mengantongi 5 gelar juara dunia, 3 diantaranya di kelas MotoGP, Lorenzo berada di urutan 4 pembalap MotoGP tersukses sepanjang sejarah. Capaian itu menempatkannya sebagai yang paling sukses diantara semua pembalap Spanyol yang pernah berkiprah di kelas primer ini. Setelah terakhir kalinya Rossi mempersembahkan gelar juara dunia pada tahun 2009, Rossi tidak pernah memenangkannya lagi sampai akhirnya ia pindah ke Ducati. Lorenzo-lah yang mengembalikan kejayaan Yamaha dengan kembali membawa pulang trofi juara dunia ke kandang Yamaha.

Meskipun begitu kehebatan Lorenzo tidak juga sanggup meruntuhkan nama besar Rossi.

Kondisi ini diyakini akan berbalik 180 derajat kalau Lorenzo kemudian sanggup membawa Ducati kembali ke puncak kelasemen dengan menjadi juara dunia MotoGP di atas Ducati Desmosedici GP. Melihat situasi sampai saat ini, meskipun cukup kompetitif, sepertinya baik Andrea Dovizioso maupun Andrea Iannone tidak akan dapat melakukannya di tahun 2016 ini. Sejarah mencatat Rossi gagal melakukannya sampai akhirnya meninggalkan Ducati untuk kembali ke Yamaha. Kalau sampai Lorenzo sanggup melakukannya, dunia akan melihat siapa yang lebih hebat diantara keduanya.

Perlu juga dicatat bahwa selama ini ketiga gelar juara dunia MotoGP Lorenzo didapatnya bersama Yamaha. Meraih gelar juara dunia bersama Ducati akan memasukkan Lorenzo ke dalam jajaran pembalap legendaris yang sanggup meraih gelar juara dunia dengan motor yang berbeda. Di kelompok ini hanya ada Casey Stoner, Valentino Rossi, Eddie Lawson, Agostini, dan Geoff Duke.

Lorenzo Menjadi Pembalap Termahal di MotoGP

Meskipun ketika kita berbicara kebanggaan menjadi juara dunia kita mungkin tidak terlalu berhitung uang, apalagi sudah menjadi rahasia umum bahwa pembalap-pembalap papan atas terutama mereka yang berlaga pada gelaran bergengsi seperti MotoGP dan Formula 1 rata-rata menerima bayaran yang sangat besar, angka yang tercantum dalam kontrak tetap saja menjadi daya tarik tersendiri.

Mungkin bahan pertimbangannya adalah kalau sama-sama memungkinkan untuk bisa meraih gelar juara dunia sementara yang satu menawarkan bayaran lebih tinggi dari yang lain, tentunya sangat wajar kalau angka yang lebih besarlah yang dipilih. Sementara itu meskipun Yamaha sudah terbukti sanggup memberikan motor yang menjadikan Lorenzo juara dunia, Ducati juga sudah menampakan potensi yang tidak kalah besar. Lain kalau misalnya yang menawarkan angka besar adalah tim satelit yang termasuk papan bawah.

Sebelum diumumkan beredar bisik-bisik bahwa angka yang ditawarkan Ducati berkisar antara 11 juta sampai 20 juta Euro setiap tahun. Memang agak sulit untuk membandingkan karena kebanyakan nilai kontrak pembalam MotoGP tidak diinformasikan secara terbuka. Tetapi sebagai bandingan, saat merebak kabar bahwa Yamaha melirik Dani Pedrosa untuk menggantikan Lorenzo, ada disebut bahwa saat ini Honda membayar Pedrosa. 2 juta Euro per tahun. Sangat jauh perbedaannya.

Akhirnya terkonfirmasi bahwa Ducati membayar Jorge Lorenzo 25 juta Euro untuk 2 tahun, artinya dia menerima 12,5 juta Euro per tahun. Lihat saja perbedaan dengan angka 2 juta Euro yang diterima Pedrosa dari Honda saat ini, padahal meskipun belum pernah meraih gelar juara dunia, Pedrosa merupakan salah satu pembalap papan atas. Tak ayal angka tersebut menjadikan Lorenzo pembalap termahal di MotoGP saat ini.

Kebijakan Yamaha yang Membuat Lorenzo Tidak Nyaman

Dengan sekian banyak kelebihan yang menjadi magnet penarik Lorenzo pindah ke Ducati, kebijakan Yamaha bukannya membuat berat kaki Lorenzo untuk melangkah tapi justru membuatnya lebih termotivasi untuk meninggalkan Yamaha. Sejumlah pengamat yang dikuti berita-berita internasional mengatakan kebijakan Yamaha sendirilah yang menjadi penyebab Lorenzo meninggalkan Yamaha.

Meskipun sudah berkali-kali membawa pulang gelar juara dunia dan menunjukkan loyalitasnya yang luar biasa pada Yamaha, Lorenzo merasa bahwa Yamaha lebih menganakemaskan Rossi sang juara dunia 9 kali, terutama sejak Rossi kembali ke Yamaha setelah gagal meraih hasil positif dari beberapa musim balapan yang dijalaninya bersama Ducati.

Yamaha memang lebih dahulu menyodori perpanjangan kontrak pada Valentino Rossi yang langsung ditandatanganinya. Kontrak ini tidak hanya menandai perpanjangan kerjasama Yamaha untuk menjadikan Rossi salah satu pembalapnya pada dua musim mendatang tetapi kerjasama antara pabrikan jepang tersebut dengan Vr46 Riders Academy, sekolah balap milik Rossi. Meskipun Yamaha menyatakan tidak ada maksud khusus dibalik kenyataan bahwa mereka menyodorkan kontrak kepada Rossi terlebih dahulu sebelum Lorenzo.

Yamaha menyatakan bahwa fihaknya menawarkan perpanjangan kontrak kepada kedua pembalapnya, Rossi dan Lorenzo, pada waktu yang bersamaan. Hanya saja Lorenzo meminta waktu untuk mempertimbangkan sementara Rossi langsung menandatanganinya.

Publik memang sangat mengetahui buruknya hubungan Rossi dan Lorenzo. Sebenarnya hubungan buruk mereka yang membuat Rossi hengkang ke Ducati sudah membaik. Lorenzo menerima kehadiran Rossi kembali ke Yamaha dengan tangan terbuka sehingga mereka bisa bekerja sama dengan cukup baik dan membuat Yamaha sebagai tim cukup optimis. Hubungan mereka kembali memburuk setelah Rossi gagal dalam persaingan merebut gelar juara dunia pada musim 2015 lalu dan menuduh kekalahannya diakibatkan kerjasama Lorenzo dengan Marc Marquez, pembalap Honda yang kesempatannya merebut gelar juara dunia tertutup beberapa sesi sebelum musim berakhir.

Banyak yang meyakini bahwa Rossi sengaja menandatangani kontrak lebih dahulu untuk membuat gusar Lorenzo dan akhirnya menyingkirkan Lorenzo dari Yamaha. Kenyataannya langkah Rossi ini sukses membuat Lorenzo meninggalkan Yamaha, menjadikan Rossi pembalap utama karena siapapun yang nantinya akan ditarik Yamaha untuk menggantikan Lorenzo, tidak ada pembalap lain yang sekaliber mereka. Mungkin kalau Yamaha bisa mengambil Marquez dari Honda, tapi itu jelas tidak akan terjadi.

Penggemar Menginginkan Lorenzo Pindah ke Ducati

Apapun intrik yang berada di belakang keputusan Jorge Lorenzo untuk meninggalkan Yamaha dan bergabung dengan Ducati mulai musim depan, rupanya memang para penggemar Lorenzo mendukung langkah yang diambil idolanya itu. Polling yang dilakukan situs olah raga terkemuka Crash.Net menunjukkan bahwa 74% penggemar lebih menyukai Lorenzo pindah ke Ducati daripada tetap tinggal di Yamaha.

Spekulasi Setelah Lorenzo Meninggalkan Yamaha

Setelah episode drama ini berakhir dengan konfirmasi kepindahan Lorenzo dari Yamaha ke Ducati, masih akan banyak lagi pertanyaan besar lain yang hanya akan bisa dijawab oleh waktu, dan sebelum waktu benar-benar menjawabnya pastinya akan banyak putaran spekulasi yang bisa jadi justru lebih menarik dari pada balapannya itu sendiri.

Kontrak Lorenzo dengan Yamaha baru akan berakhir di penghujung musim 2016 ini, dan dia baru akan menggunakan seragam merah Ducati mulai awal musim 2017 yang akan datang. Akankah Lorenzo mampu meraih gelar juara dunia terakhirnya bersama Yamaha? Apakah Yamaha akan tetap memberikan dukungan sama besar dengan Rossi atau justru mengganjal Lorenzo? Bagaimana persaingan antara Rossi dan Lorenzo di sisa musim ini? Siapakah yang akan menggantikan Lorenzo dan menjadi tandem Rossi musim depan? Siapakah yang akan disingkirkan Ducati untuk menyerahkan motornya pada Lorenzo? Akankah Yamaha mengijinkan Lorenzo untuk memulai debutnya bersama Ducati pada pengujian bersama setelah musim 2016 ini berakhir tapi musim 2017 belum bergulir?

Dan akhirnya tentunya bertanyaan terbesar … akankah Lorenzo mampu membawa pulaing gelar juara dunia MotoGP dengan mengendarai Ducati Desmosedici GP atau justru gagal dan kembali ke Yamaha seperti yang dilakukan Rossi?

This Is A Custom Widget

This Sliding Bar can be switched on or off in theme options, and can take any widget you throw at it or even fill it with your custom HTML Code. Its perfect for grabbing the attention of your viewers. Choose between 1, 2, 3 or 4 columns, set the background color, widget divider color, activate transparency, a top border or fully disable it on desktop and mobile.

This Is A Custom Widget

This Sliding Bar can be switched on or off in theme options, and can take any widget you throw at it or even fill it with your custom HTML Code. Its perfect for grabbing the attention of your viewers. Choose between 1, 2, 3 or 4 columns, set the background color, widget divider color, activate transparency, a top border or fully disable it on desktop and mobile.
Go to Top