Induk perusahaan Toyota menyiapkan dana sebesar 2 milyar dolar untuk pengembangan mobil listrik di Indonesia dalam kurun waktu 4 tahun ke depan. Inisiatif inu akan diawali dengan mobil hibrid. Rencana tersebut diungkapkan Menko Kemaritiman dan Investasi Indonesia, Luhut Panjaitan.

“Selama empat tahun berturut-turut mulai tahun 2019 kami akan terus meningkatkan investasi hingga 28,3 trilyun rupiah”, ungkap Presiden Toyota, Akio Toyoda, yang dikutip dalam keterangan pera resmi Kementrian tersebut minggu lalu.

Toyota sendiri menyatakan bahwa raksasa otomotif tersebut menargetkan pada tahun 2025 separuh dari penjualan globalnya akan terdiri dari mobil listrik.

Kesepakatan itu didapat dalam pertemunan antara bos besar Toyota dan Mentri Luhut yang digelar di Osaka, Jepang. “Kami yakin untuk melakukan investasi masif karena Pemerintah Indonesia memiliki peta pengembangan kendaraan listrik yang baik sehingga kami menilai Indonesia merupakan tempat tujuan investasi utama dalam bidang kendaraan listrik”, ungkap Toyoda.

Lebih lanjut Toyoda memastikan bahwa fihaknya berkomitmen untuk mengikuti peta perencanan kendaraan listrik yang disusun Pemerintah Indonesia dalam hal tahapan investasinya. Sebagai langkah awal Toyota akan mengembangkan kendaraan hibrid.

Di sisi lain, berita yang dilansir kantor berita internasional Reuters menyebutkan bahwa proyek mobil otonom Monet yang dibangun Toyota bersama SoftBank berencana untuk memmulai operasinya di Asia Tenggara tahun depan.

Pasokan Baterai

Sebagai kekuatan ekonomi terbesar di kawasan Asia Tenggara, Indonesia merupakan negara yang kaya akan sumber alam. Salah satu dari kekayaan alam Indonesia itu adalah bijih nikel laterit yang merupakan bahan utama untuk memproduksi baterai lithium-ion yang dipakai pada kendaraan listrik. Indonesia dengan cerdas memanfaatkan kekayaan alamnya ini untuk menarik pabrikan kendaraan.

Pejabat dan analis memperkirakan Indonesia yang saat ini merupakan basis produksi kendaraan kedua terbesar di kawasan Asia Tenggara akan menjadi pemain utama dalam produksi baterai lithium untuk memasok industri mobil listrik yang dipastikan akan terus berkembang.

Pada awal tahun 2019 Indonesia mulai menggodok program ekonomi yang menawarkan diskon pajak untuk industri mobil listrik dan produsen baterai. Program tersebut juga menawarkan tarif khusus bagi negara-negara yang memiliki permintaan tinggi terhadal kendaraan listrik.

Toyota bukan satu-satunya negara yang melirik potensi investasi mobil listrik di Indonesia. Diberitakan Reuters, raksasa otomotif Korea Selatan, Hyundai Motor Co. juga berencana untuk memproduksi mobil listrik sebagai bagian dari komitmen investasinya dalam bidang otomotif di Indonesia  yang bernilai sekitar 880 juta dolar. Sebelumnya, pada pertengahan tahun 2018, Mitsubishi Motors Corp. mengumumkan rencananya untuk bekerjasama dengan Pemerintah Indonesia dalam riset untuk pembangunan infrastruktur yang akan dapat mengakomodasi kendaraan listrik.

Meskipun demikian, ambisi Indonesia untuk merajai industri mobil listrik dunia bukannya tanpa tantangan. Dunia menunggu seberapa cepat Indonesia dapat mewujudkannya. Tantangan terbesarnya terletak pada pembangunan industri baterai lithium yang memerlukan smelter nikel. Pembangunan smelter nikel melibatkan teknologi yang sangat rumit.